Senin, 19 November 2012

PENGARUH PEMBERIAN PREBIOTIK FM (FAHMIDA MANIN) DENGAN LEVEL YANG BERBEDA TERHADAP PRESENTASE DAGING, TULANG DAN LEMAK ABDOMINAL AYAM BROILER

PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK FM (Fahmida Manin) DENGAN LEVEL YANG BERBEDA TERHADAP PERSENTASE DAGING, TULANG DAN LEMAK ABDOMINAL AYAM BROILER PENDAHULUAN Latar Belakang Meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat menyebabkan permintaan daging dan telur semakin meningkat sehingga peternakan ayam diharapkan menjadi salah satu sumber pangan yang dapat memenuhi kebutuhan akan daging dan telur bagi masyarakat. Ayam broiler merupakan salah satu dari ternak unggas yang dapat memenuhi kebutuhan akan sumber protein hewani bagi masyarakat, dimana dapat diproduksi dalam waktu yang relatif singkat yaitu 5 – 7 minggu. Ini dapat tercapai apabila usaha peternakan ayam berhasil dengan baik. Keberhasilan suatu usaha peternakan tergantung kepada beberapa hal antara lain; pemuliaan (breeding), makanan (feeding), dan tatalaksana (management). Masa panen ayam broiler termasuk singkat. Untuk pertumbuhan yang baik dibutuhkan pakan yang b aik, pemeliharaan dan pencegahan penyakit yang baik. Ayam broiler sepanjang hidupnya terkurung sehingga segala kebutuhannya dipenuhi oleh manusia (Rasyaf, 1995). Ditinjau dari segi mutu, daging ayam broiler memiliki nilai gizi yang tinggi dibanding daging ternak lainnya. Dagingnya lembut, berwarna merah terang dan menarik, memiliki asam amino lengkap serta mudah diolah. Adapun sifat-sifat yang dimiliki ayam broiler adalah (1) daging empuk, kulit licin, lunak, tulang rawan dada belum membentuk tulang yang keras, (2) ukuran badan besar dengan bentuk dada yang lebar, padat, dan berisi, (3) efisiensi terhadap makanan cukup dan sebagian besar makanan diubah menjadi daging, (4) pertumbuhan dan pertambahan berat badan sangat cepat, Umur 7-8 minggu dapat mencapai bobot kurang lebih 2 kg (Kanisius, 1987 ). Kandungan lemak yang tinggi pada ayam broiler menunjukkan efisiensi atau penggunaan ransum menurun. Hal itu terjadi karena kandungan energi dalam ransum yang berlebih akan disimpan sebagai lemak. Sebagian besar lemak terdapat di bawah kulit, di sekeliling alat pencernaan, ginjal, urat daging dan tulang. Lemak abdomen yang terbentuk selama pemeliharaan akan dibuang pada saat pengolahan, sehingga terjadi pemborosan energi dalam ransum. Kandungan energi tersebut seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas daging dan penampilan ayam broiler. Disamping itu, kandungan lemak dalam daging ayam broiler yang relatif tinggi dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan manusia. Produktivitas ayam broiler dipengarui oleh beberapa faktor antara lain genetik, iklim, nutrisi dan faktor penyakit. Keunggulan ayam broiler akan terbentuk bila didukung oleh lingkungan, karena sifat genetis saja tidak menjamin keunggulan tersebut dapat timbul. Ayam broiler akan nyaman hidup dan berproduksi pada suhu lingkungan 18-21 °C. Namun kita ketahui bahwa suhu di Indonesia lebih panas sehingga memungkinkan ayam mengurangi konsumsi ransum dan lebih banyak minum. Dengan demikian, faktor ransum menyangkut kualitas dan kuantitasnya sangat menentukan terhadap produktivitas ternak. Pertumbuhan yang cepat tidak akan timbul bila tidak didukung dengan ransum yang mengandung nutrisi yang lengkap dan seimbang (asam amino, asam lemak, mineral dan vitamin) sesuai dengan kebutuhan ayam. Bila faktor suhu dan ransum sudah teratasi maka faktor manajemen perlu diperhatikan pula. Ayam broiler perlu dipelihara dengan teknologi yang dianjurkan oleh pembibit untuk mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan (Abun, Aisyah, dan Saefulhadjar. 2006). Melihat fenomena masalah di atas, maka perlu dilakukan suatu upaya yang dapat menurunkan kandungan lemak pada ayam broiler, salah satunya adalah dengan penambahan probiotik FM (Fahmida Manin) yang merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk dapat menurunkan lemak dalam daging ayam broiler. Lesson dan Summers (2000) menyatakan bahwa lemak dalam tubuh ayam broiler jantan dan betina umur sehari adalah 14,6 % dan 9,2 %, umur 6 minggu menjadi 17,9 % dan 22,2 %. Lemak abdominal 1,4 % - 2,6 % dari berat hidup ayam broiler jantan dan 3,2 % - 4,8 % dari berat hidup ayam betina. Nusa Tenggara Timur (NTT) – Kupang merupakan salah satu daerah yang beriklim tropis dimana suhu lingkungan > 320C berada diatas suhu ideal bagi pemeliharaan ayam broiler. Hal ini akan berdampak terhadap produktivitas pertumbuhan yang tidak mencapai maksimal sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki ternak ayam broiler yang diusahakan peternak. Suhu lingkungan yang tinggi mengakibatkan konsumsi ransum menurun dan lebih banyak mengkonsumsi air. Suhu lingkungan yang ideal untuk menunjang pertumbuhan ayam broiler berkisar antara 16-260c (Kanisius, 1987). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsumsi pakan adalah dengan penambahan probiotik dalam pakan ataupun air minum. Probiotik FM (Fahmida Manin) Probioti FM adalah pakan yang mengandung mikroorganisme hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikomsumsi dalam keadaan hidup dengan jumlah yang memadai (Fuller, 1992). Adapun mekanisme kerja probiotik jika diberikan pada ayam akan berkolonisasi di dalam usus, dan selanjutnya dapat dimodifikasi untuk sistem imunisasi/kekebalan hewan inang. Kemampuan menempel yang kuat pada sel-sel usus ini akan menyebabkan mikroba-mikroba probiotika berkembang dengan baik dan mikroba-mikroba patogen tereduksi dari sel-sel usus hewan inang, sehingga perkembangan organisme-organisme patogen yang menyebabkan penyakit tersebut, seperti Eshericia coli, Salmonella thyphimurium dalam saluran pencernaan akan mengalami hambatan. Probiotik FM di produksi dalam bentuk cair dan padat yang mengandung sejumlah bakteri bacillus dan bakteri asam laktat yg diisolasi dari saluran pencernaan itik kerinci dan ayam yang dipelihara di lahan gambut. Kegunaan probiotik ini adalah: 1). Meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, 2). Menurunkan kadar kolesterol daging ayam pedaging dan telur itik, 3). Menurunkan jumlah baketri pathogen dalam usus, 4). Menurunkan angka kematian, 5). Mengurangi pencemaran ammonia dan bau. Keunggulan probio_FM adalah dapat mengurangi jumlah bakteri patogen pada saluran pencernaan unggas, meningkatkan kesehatan ternak serta mengurangi pencemaran lingkungan yang berasal dari bau amonia feses. Probiotik adalah probiotik cair yang telah dikembangkan dari hasil reset staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi sejak tahun 2002, berasal dari hasil isolasi mikroba saluran pencernaan itik kerinci, ayam kampung yang dipelihara di lahan gambut dan ayam broiler. (Manin dkk., 2009). Penggunaan probiotik pada unggas memberikan efek positif terhadap produktivitas dan memperbaiki status kesehatan unggas. Hal tersebut juga terjadi pada ternak ruminansia, pemberian probiotik terhadap ruminansia memberikan dampak positif dan pernyataan tersebut didukung oleh beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan probiotik sebagai feed additive dalam air maupun pakan. Probiotik yang ditambahkan sebanyak 10 ml pada susu (pemerahan di pagi hari) pada pedet yang baru lahir menurunkan 40 % kasus diare (Aldana, et. al., 2009) sehingga probiotik (Lactobacillus sp.) dapat memperbaiki status kesehatan pedet dan menurunkan biaya pengobatan akibat diare dan penyakit lainnya (Gorgulu, et. al., 2003). Pemberian probiotik bertujuan untuk meningkatkan daya cerna ayam sehingga pakan yang dikonsumsi lebih efisien untuk produksi daging dan lemaknya berkurang maka kadar kolesterol dalam daging berkurang (Jayanata dan Harianto, 2011) Dari uraian diatas, maka akan dilakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemberian Probiotik FM dengan Level yang berbeda terhadap Persentase Daging, Tulang dan Lemak Abdominal Ayam Broiler” Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang mendasar dari penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh probiotik FM dengan level yang berbeda terhadap persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler? Dari rumusan masalah diatas maka dapat dijabarkan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut: “Apakah pemberian probiotik FM (Fahmida Manin) dengan level yang berbeda menyebabkan pengaruh pada persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler juga berbeda?” Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik FM (Fahmida Manin) dengan level yang berbeda terhadap persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi ilmiah bagi pembaca, guna meningkatkan ilmu tentang peternakan terutama mengenai pentingnya pemberian probiotik FM (Fahmida Manin) terhadap persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler Hipotesis H0 : Pemberian probiotik FM (Famida Manin) dengan level yang berbeda tidak mengakibatkan persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler berbeda. H1: Pemberian probiotik FM (Famida Manin) dengan level yang berbeda menyebabkan Perbedaan persentase daging, tulang dan lemak abdominal ayam broiler. TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler Ayam broiler merupakan hasil akhir (final stock) dari persilangan berbagai jenis ayam, yang mempunyai kecepatan tumbuh sangat tinggi dan merupakan ternak pedaging yang memiliki kriteria tertentu terutama mengenai bobot dan umur pemotongannya. Siregar dkk. (1980) menyatakan bahwa broiler adalah ayam muda yang berumur kurang dari 8 minggu, dagingnya empuk dan gurih dengan bobot hidup berkisar 1.5 - 2.0 kg. Broiler adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi pakan yang baik dan dapat dipotong pada usia yang relatif muda sehingga sirkulasi pemeliharaannya lebih cepat dan efisien serta menghasilkan daging yang berkualitas baik (Murtidjo, 1990). Menurut Gordon dan Charles (2002), Ayam briler merupakan strain ayam hibrida modern yang berjenis kelamin jantan dan betina yang dikembangbiakkan oleh perusahaan pembibitan khusus. Banyak jenis Strain ayam broiler yang beredar di pasaran yang pada umumnya perbedaan tersebut terletak pada pertu mbuhan ayam, konsumsi pakan, dan konversi pakan (Bell dan Weaver, 2002). Jenis strain tersebut menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2000) adalah Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-broiler, Ross, Marshall ‘’in’’, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo dan Cp 707. Wahyu (1988) mendefinisikan ayam broiler sebagai ayam jantan muda maupun betina yang berumur dibawah 16 minggu atau umur antara 6 – 10 minggu, pada umur tersebut bobot badan dapat mencapai 1.5–2.0 kg. Rasyaf (1987) kemudian menambahkan defenisi ayam broiler adalah ayam jantan dan betina yang berumur dibawah 8 minggu dengan bobot badan tertentu, pertumbuhannya cepat, dada lebar serta perdagingannya baik dan banyak. Persyaratan mutu bibit ayam broiler atau DOC menurut SNI (2005) adalah berat DOC per ekor minimal 37 g dengan kondisi fisik sehat, kaki normal, dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ditemukan kelainan bentuk dan cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering. Warna dubur seragam sesuai dengan warna galur, kondisi bulu kering dan berkembang serta jaminan kematian DOC maksimal 2%. Patokan kebutuhan nutrisi ayam broiler menurut NRC (1994) untuk kebutuhan protein umur 0-3 minggu, 3-6 minggu, dan 6-8 minggu berturut turut adalah 23%, 20% dan 18% pada tingkat EMP 3200 kkal/kg. Kebutuhan nutrisi tiap ayam bergantung pada strain masing-masing (Ensminger et al., 1992). Menurut Rasyaf (1993) di Indonesia ayam broiler sudah dapat dijual pada umur 5 atau 6 minggu dengan berat badan antara 1,3 – 1,4 kg. Pendapat lain menyatakan bahwa ayam broiler adalah ayam yang dipasarkan pada umur relatif muda (7 – 8 minggu) dengan bobot hidup sekitar 1.8 kg (North dan Bell, 1990). Ayam broiler adalah jenis ayam yamg mempunyai ciri-ciri khusus untuk diternakkan yakni mempunyai pertumbuhan yang cepat dan mutu daging yang baik. Umumnya ayam broiler sudah dapat dijual pada umur 7 atau 8 minggu dengan berat badan sekitar 1,8 kg, sehingga saat ini banyak konsumen lebih menginginkan ayam broiler umur 4-5 minggu dengan berat badan sekitar 1000-1200 gram. Rasyaf (1995). Daging ayam broiler Daging dapat dideskripsikan sebagai sekumpulan otot yang melekat pada kerangka. Daging juga dapat didefinisikan sebagai otot tubuh hewan atau manusia termasuk tenunan pengikatnya. Bagian-bagian lain dari tubuh hewan seperti hati, ginjal, otak dan jaringan-jaringan otot lainnya yang dapat dimakan masih tergolong dalam pengertian daging. Daging ayam mengandung lemak relatif lebih rendah, yang terdiri dari asam lemak jenuh dan tak jenuh. Daging ayam mengandung vitamin dan mineral yang jumlahnya relatif rendah. Vitamin daging ayam meliputi niacin, riboflavin, tiamin dan asam askorbat, sedangkan mineral terdiri dari natrium, kalium, magnesium, kalsium, besi, fosfor, sulfur, klorin dan iodin. Pigmen unggas meliputi mioglobin dan hemoglobin. Warna normal daging unggas adalah putih keabuan hingga merah pudar atau ungu (Wardana, 2010). Daging yang berkualitas tinggi adalah daging yang memiliki konsistensi kenyal, tekstur halus, warna terang dan marbling yang cukup (Dhuljaman, Sugana, Natasasmita, dan Lubis, 1984) Kualitas daging juga dipengaruhi oleh jumlah nutrisi konsumsi pakan. Jumlah nutrisi yang tersedia berbeda di antara pakan. Peningkatan atau penurunan konsumsi pakan berhubungan dengan kualitas pakan yang tersedia, sehingga dapat mempengaruhi karakteristik atau kualitas daging. Pengaruh dari pakan yang berbeda komposisi atau kualitasnya terhadap kualitas daging bervariasi karena adanya variasi dari faktor lain seperti umur, spesies, bangsa, jenis kelamin, bahan aditif, berat potong atau berat karkas, laju pertumbuhan, tipe ternak, dan perlakuan sebelum dan setelah pemotongan (Soeparno, 1998). Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan bahan pakan yang tepat sehingga menghasilkan pakan yang mempunyai kualitas yang mampu memenuhi kebutuhan ternak dengan efisiensi penggunaan pakannya yang tinggi dan bias menekan biaya produksi. Salah satunya dengan penggunaan probiotik FM (Fahmida Manin). Dengan probiotik ini dapat meningkatkan pencernaan lebih efisien dan dapat menurunkan lemak abdominal dalam tubuh ayam broiler. Tulang Ayam Broiler Tulang merupakan kerangka bagi tubuh dan tempat bertautnya daging. Menurut Hartono (1989), tulang sering disebut jaringan tulang (osseus tissue). Jaringan tulang berbentuk padat dan kuat, memberikan struktur khusus disebut “tulang”. Forest (1975) menyatakan, bahwa tulang terdiri dari jaringan ikat yang mengandung sel-sel, elemen fibrosa dan matriks ekstraseluler. Matriks ekstraseluler pada tulang terdiri dari matriks organik dan anorganik. Matriks organik pada tulang terdiri atas zat-zat yang mengandung kompleks molekul protein yang dikelilingi serat-serat kologen. Matriks anorganik terdiri dari garam kalsium fosfat. Tulang berfungsi sebagai pembentuk, penegak tubuh serta pelindung bagian tubuh yang lemah dan fital atau meminta persyaratan tertentu, misalnya kuat tapi ringan. Tulang merupakan alat pasif maupun aktif karena sebagai pertautan otot kerangka. Tulang juga merupakan gudang dari garam kalsium yang bila perlu dapat dimobilisasikan untuk mempertahankan kadarnya dalam darah (Hartono, 1989). Pada tulang ayam terdapat tulang berongga yang dihubungkan kesistem respirasi, yang secara kontinyu dilalui oleh keluar masuknya udara, seperti pada tulang kepala, humerus, clavicula dan beberapa tulang lainnya, sedangkan tulang lunak terdiri dari tulang femur dan tibia (North, 1972). Tulang kaki ayam atau metatarsus atau sank mencapai panjang maksimal pada minggu ke-16 sampai minggu ke-20 (North, 1972). Pembentukan tulang metatarsus ini mencapai sempurna relatif lebih cepat pada ayam betina yaitu 139 hari dan lebih lambat pada ayam jantan yaitu 195 hari. Lemak Abdominal Lemak abdomenal merupakan salah satu komponen lemak tubuh yang terletak di sekitar rongga perut. Lemak abdominal adalah lemak yang terdapat disekeliling ampela, usus, otot daerah perut, bursa fabrisius dan kloaka (Vitriasari, 1998). Menurut Rose (1997) lemak tubuh akan meningkat seiring dengan mendekatinya masa dewasa ukuran tubuh. Semakin dewasa, lemak di dalam tubuh ayam akan semakin besar. Lemak abdomen dapat mencapai 2% dari bobot tubuh. Menurut Piliang dan Djojosoebagjo (1990) jaringan adiposa merupakan jaringan yang berperan sebagai penyimpan lemak. Salah satu tempat penyimpanan lemak yaitu di sekitar rongga perut (abdomen). Dalam industri ayam pedaging penimbunan lemak pada daerah rongga perut biasanya akan dibuang. Kandungan lemak abdomen dapat diturunkan dengan teknik manipulasi dalam ransum. Syamsuhaidi (1997) melaporkan bahwa semakin tinggi penggunaan bahan pakan berserat (duckweed) dalam ransum, maka kandungan lemak abdominal yang dihasilkan cenderung semakin rendah. Tillman et al. (1986) bahwa pada umumnya meningkatnya bobot hidup ayam diikuti oleh menurunnya kandungan lemak abdominal yang menghasilkan produksi daging yang tinggi. Menurut Haris (1997) yang menyatakan bahwa perlemakan tubuh diakibatkan dari konsumsi energi yang berlebihan yang akan disimpan dalam jaringan tubuh yaitu pada bagian intramuscular, subkutan dan abdominal. Ditambahkan lagi oleh Tilman et al. (1998) yang menyatakan bahwa kelebihan energi pada ayam akan menghasilkan karkas yang mengandung lemak lebih tinggi dan rendahnya konsumsi menyebabkan lemak dan karbohidrat yang disimpan dalam glikogen rendah. Soeparno (2000) menyatakan bahwa tinggi rendahnya kualitas karkas ayam pedaging ditentukan dari jumlah lemak abdominal yang terdapat dari ayam pedaging tersebut. Karkas yang baik harus mengandung daging yang banyak, bagian yang dimakan harus baik, mengandung kadar lemak yang tidak tinggi. Pengaruh tingkat umur pemeliharaan dan jenis kelamin ayam broiler terhadap persentase karkas di gambarkan oleh North dan Bell (1990). Di jelaskan bahwa semakin lama masa pemeliharaan ayam broiler akan semakin meningkatkan bobot badan dan persentase karkas. Lebih lanjut Deaton dan Lott (1985) menyatakan adanya peningkatan lemak abdominal pada ayam broiler jantan dan betina selama periode 36 sampai dengan 6 hari. Persentase Lemak Abdominal Persentase lemak adominal diperoleh berdasarkan hasil perbandingan antara berat lemak abdominal dan berat hidup ayam yang dinyatakan dalam persen. Lemak pada tubuh ternak terbagi atas subkutan (bawah kulit), bawah perut, dalam otot (intramuskuler), Lemak abdominal: jantan lebih banyak dan semakin bertambah umur semakin tinggi jumlahnya, dan Lemak subkutan: 13,25% umur 3 minggu, 33,87% pada umur 9 minggu (Resnawati, 2004). Salah satu dari beberapa bagian tubuh yang digunakan untuk menyimpan lemak pada ayam pedaging adalah bagian di sekitar perut yang disebut lemak abdomen. Rataan persentase bobot lemak abdomen berkisar 1,50–2,11% sedangkan dilaporkan Bilgili, bahwa persentase lemak abdomen ayam pedaging 2,6–3,6%. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan strain dan kandungan nutrisi ransum, tingkat energi dan asam amino pada ransum nyata mempengaruhi lemak abdomen. Bertambahnya umur ayam pedaging dan meningkatnya energi dalam ransum makin meningkatkan lemak abdomen. Perbedaan strain nyata mempengaruhi bobot lemak abdomen (Resnawati, 2004). Pertambahan bobot badan diikuti dengan terbentuknya akumulasi sejumlah lemak di rongga abdominal yang tidak diinginkan. Selain pada abdominal, lemak juga terakumulasi di antara jaringan otot (intermuscular fat), di bawah kulit (sub cutan fat), dan dalam daging (Wahju, 2004). Persentase lemak abdominal diperoleh dari penimbangan lemak yang terdapat pada rongga abdomen dengan membandingkan berat lemak abdomen dengan berat hidup ayam 10 dikalikan 100% (Rizal, 2006). Kelebihan energi dalam tubuh ayam akan disimpan dalam bentuk lemak, sedangkan metabolisme pembentukan lemak tersebut membutuhkan banyak energi, maka secara tidak langsung terjadi pemborosan energi ransum. Sedangkan penimbunan lemak abdomen termasuk kedalam hasil ikutan, merupakan penghamburan energi dan pengurangan berat karkas, karena lemak tersebut dibuang pada waktu pengolahan. Lemak abdomen merupakan salah satu komponen lemak tubuh, yang terdapat dalam rongga perut (Yusmaini, 2008). Probiotik Probiotik adalah pangan yang mengandung mikroorganisme hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikomsumsi dalam keadaan hidup dengan jumlah yang memadai (Fuller, 1992). Probiotik dalam ransum ternak dibagi menjadi 3kelompok utama yaitu bakteri asam laktat, spora dan ragi (Wahyu, 1991). MenurutAnggorodi (1990), probiotik adalah mikroorganisme tertentu yang ada pada tubuh hewan dan menjamin pembentukan organism yang efektif dan bermanfaat di dalam usus. Mekanisme kerja probiotik bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan yang menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri pathogen (wahyu 1991). Mulyono dkk (2009), penggunaan probiotik dan antibiotic dapat memperbaiki kecernaan protein ransum sehingga perumbuhan bobot badan meningkat. Probiotik FM (Fahmida Manin) Probiotik FM adalah probiotik cair yang telah dikembangkan dari hasil reset staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi sejak tahun 2002, berasal dari hasil isolasi mikroba saluran pencernaan itik kerinci, ayam kampung yang dipelihara di lahan gambut dan ayam broiler. (Manin dkk, 2009). Keunggulan probio_FM adalah dapat mengurangi jumlah bakteri patogen pada saluran pencernaan unggas, meningkatkan kesehatan ternak serta mengurangi pencemaran lingkungan yang berasal dari bau amonia feses. Jayanata dan Harianto (2011) melaporkan bahwa tujuan pemberian probiotik dalam ransum ayam adalah untuk meningkatkan daya cerna ternak ayam, sehingga pakan dapat terserap dengan baik dan dapat diolah lebih efisien menjadi daging. Indikasi pemanfaatan probiotik dalam ransum ayam dapat terlihat dari pertumbuhan bobot ayam yang lebih cepat dengan jumlah pakan yang dikonsumsi sangat efisien. Oleh karena itu, Probio_FM saat ini telah diaplikasikan pada pemeliharaan ayam broiler di Fapet Farm Universitas Jambi dan beberapa daerah di Provinsi Jambi serta kelompok peternakan itik di Provinsi Banten dan kabupaten kerawang jawa barat. Selain itu, Probio_FM juga akan diterapkan pada program Iptek bagi Inovasi dan kreativitas kampus (lblKK) di Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Nusa Tenggara Timur. Sebagai konsekuensi dari meluasnya penggunaan probio_FM, maka permintaan akan produk ini semakin hari semakin meningkat. MATERI DAN METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kandang ayam Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana selama 5 minggu yang terdiri dari 1 minggu periode persiapan dan 4 minggu periode pengumpulan data, kemudian dilakukan pemotongan dan pengukuran persentase tulang, daging, dan lemak abdominal dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan. Materi Penelitian Ayam yang digunakan dalam penelitian berasal dari strain CP 707 PT. Charoen Phokpand Jaya Farm. Jumlah ayam yang digunakan dalam penelitian yaitu 80 ekor ayam broiler umur 1 minggu yang terdiri dari 4 ekor untuk setiap ulangan sehingga dalam 1 perlakuan terdapat 20 ekor ayam. Jenis probiotik yang akan digunakan adalah Probio_FM, diperoleh di Laboratorium Kimia Pakan Fakultas Peternakan Undana Ransum yang digunakan adalah ransum komersial ayam broiler yaitu CP 11 untuk fase starter dan CP 12 untuk fase finisher. Kandang yang akan digunakan adalah kandang litter menggunakan sekam yang berukuran 12.5 m x 5 m yang terdiri dari 20 petak dengan masing-masing petak berukuran 90 x 90 cm. Dinding setiap petak terbuat dari kawat yang dilengkapi dengan bola lampu 5 watt sebagai penerang sekaligus pemanas, di lengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum. Alat dan bahan pendukung yang digunakan adalah timbangan yang bermerek Ohaus dengan kapasitas 2610 x 0.1 gram, beaker glass, tabung reaksi, tabung centrifuge, timbangan elektrik dan thermometer ruang. Metode Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan (experimen) dengan menggunakan rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL), pada ayam broiler dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Keempat perlakuan tersebut adalah: R0 : Air minum tanpa probiotik (kontrol) R1 : Air minum ditambah probiotik FM(Fahmida Manin) 5 cc / liter air R2 : Air minum ditambah probiotik FM(Fahmida Manin) 10cc / liter air R3 : Air minum ditambah probiotik FM(Fahmida Manin) 15 cc / liter air Variable yang Diukur Persentase daging Persentase daging dihitung dengan cara: (Berat Daging)/(Berat Karkas) x 100% Karkas dipotong-potong hingga menjadi potongan utama, bagian paha, dada, punggung+leher hingga sayap dipisahkan. Semua otot atau daging yang telah dipisahkan dari tulang dan daging ditimbang untuk mendapatkan berat total daging. Persentase tulang Persentase tulang dihitung dengan cara: (Berat Tulang)/(Berat Karkas) x 100 % Persentase tulang diperoleh dari karkas ayam yang telah dipisahkan dari daging bagian paha, dada, punggung+leher dan sayap. Kemudian dipisahkan dan ditimbang untuk mendapatkan berat total tulang. Persentase lemak abdominal Berat lemak abdominal dapat diketahui dengan cara menimbang berat lemak yang melekat di dalam perut (abdomen) ayam meliputi jantung, rempela, dinding perut, ginjal, dan kloaka (Prilyana, 1984). Persentase lemak abdominal diperoleh dengan cara perhitungan sebagai berikut ; (Berat Lemak Abdominal)/(Berat Karkas) x 100 % Prosedur penelitian Pengacakan kandang dan ternak ayam broiler Kertas digunting sebanyak 20 lembar Beri nomor pada kertas sesuai banyaknya perlakuan dan ulangan yaitu R0. 1, R0. 2, R0. 3, R0. 4, RI. 1, R1. 2 dan seterusnya hingga nomor R3. 4 Kertas yang sudah diberi nomor tersebut digulung kemudian dimasukkan kedalam sebuah kotak dan dikocok Setiap petak diberi satu gulungan kertas yang sudah di acak hingga petak ke 20 kemudian disesuaikan petak yang mendapat perlakuan R0, R1, R2, R3 Ayam broiler yang berat badannya sama atau homogen tersebut diangkat empat 4 ekor lalu ditempatkan pada setiap unit percobaan Karena berat badan ayam sama atau homogen maka tidak perlu diacak seperti pengacakan kandang Persiapan kandang sebelum DOC masuk Kandang dan semua peralatan kandang termasuk tempat pakan dan tempat minum sudah disanitasi, dibersihkan dari segala macam kotoran yang mengganggu Kemudian kandang dan semua peralatan diberi desinfektan formades dan ditabur dengan air kapur. Alat pemanas dan lampu penerang diperhatikan Litter berupa sekam padi yang sudah bersih dan kering Termometer digantung pada gantungan dalam kandang untuk mengontrol suhu kandang. Pemberian pakan Cara pemberian pakan dilakukan secara ad libitum. Setiap ransum yang diberikan maupun ransum yang sisa harus ditimbang untuk mengetahui jumlah ransum yang dikonsumsi setiap minggu. Vaksinasi Vaksinasi dilakukan sebanyak 2 kali. Vaksinasi pertama dilakukan saat ayam berumur 4 hari dengan menggunakan vaksin Hitchner/clone Lz 58 melalui tetes mata. Vaksin kedua menggunakan vaksin komarof melalui suntikan intramuskuler pada otot bagian dada, dilakukan pada saat ayam percobaan berumur 4 minggu yang bertujuan untuk mencegah penyakit Newcastle Disease (ND) Pemisahan karkas dan non karkas Pada akhir penelitian, sebelum pemotongan dilakukan penimbangan pada ternak ayam yang akan dipotong untuk mengetahui berat badan akhir ayam broiler. Setelah itu dilakukan pemisahan karkas dan non karkas dengan cara sebagai berikut: Proses pengeluaran jeroan dimulai dari pemisahan tembolok dan trakhea serta kelenjar minyak dibagian ekor. Kemudian pembukaan rongga badan dengan membuat irisan dari kloaka kearah tulang dada. Kloaka dan jeroan dikeluarkan, kemudian dilakukan pemisahan organ-organ, yaitu hati dan empedu, ampedal dan jantung. Isi ampedal harus dikeluarkan, demikian pula empedu dipisahkan dari hati dan dibuang. Kepala, leher dan kaki juga dipisahkan, kemudian ditimbang bagian karkas untuk mendapatkan berat karkas. Teknik Pengambilan Data Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini ditabulasi dan dianalisis menurut prosedur Sidik Ragam Analysis of Variance (ANOVA), untuk membedakan antara perlakuan digunakan uji Duncan Spss 17 (Pratisto, 2009) HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh perlakuan terhadap bobot badan akhir, bobot karkas dan persensentase daging Anggorodi (1994), menyatakan bahwa salah satu faktor yang berperan penting yang mempengaruhi laju pertumbuhan adalah konsumsi ransum. Pertumbuhan daging sangat ditentukan oleh kandungan nutrisi pakan (Wahju, 1997). Anggorodi (1985) bahwa kualitas ransum tergantung pada komposisi dan keseimbangan asam-asam amino esensial yang terkandung dalam ransum tersebut. Jull (1972) menyatakan bahwa produksi karkas yang dinyatakan dengan persentase karkas dipengaruhi oleh bobot badan akhir dan bobot karkas. Card dan Nesheim (1972) menyatakan bahwa bobot potong yang tinggi akan menghasilkan persentase karkas yang tinggi dan hasil ikutan yang relatif lebih kecil. Jull (1972) bahwa persentase karkas ditentukan oleh besarnya bagian tubuh yang terbuang seperti kepala, leher, kaki, viscera, bulu dan darah. Table 1. Rata-Rata Berat Karkas, Daging dan Tulang Ternak Broiler yag di beri FM Parameter N Perlakuan RO R1 R2 R3 Berat Karkas (g) 20 1,118.80 ± 157.25a 1,162.40 ± 91.61a 1,324.60 ± 150.92b 1,193.20 ± 10.87a Berat total daging (g) 20 996.80± 130.11a 987.20 ± 119.36a 1,036.80 ± 77.68a 973.80 ± 31.33a Berat total tulang (g) 20 282.40± 36.65a 325.20± 57.45a 296.80± 26.59a 273.60± 33.97a Table 2. Rata-rata berat daging pada potongan utama karkas ayam broiler yang di beri FM Parameter N Perlakuan RO R1 R2 R3 Paha atas (g) 20 202.60 ± 31.57 194.80± 33.33 212.60± 21.70 175.00± 28.39 Paha bawah(g) 20 139.20± 17.20 135.80± 13.59 159.80± 24.89 137.80± 13.66 Punggung (g) 20 178.80± 44.43 195.20± 53.48 162.40± 22.95 189.00± 18.34 Dada (g) 20 403.20± 55.42 393.60± 56.18 435.40± 39.70 403.20± 15.02 Sayap (g) 20 73.00± 9.30 67.80± 9.26 69.60± 7.13 68.80± 7.85 Table 3. rata-rata berat lemak abdominal dan persentase lemak abdominal ayam broiler yang diberi FM Parameter N Perlakuan R0 R1 R2 R3 Berat lemak abdominal(g) 20 31.00± 7.07 38.60± 10.53 29.80± 9.73 38.60 ± 8.68 Persentase lemak abdomial(%) 20 2.80± 0.62 3.30± 0.77 2.33± 0.96 3.23± 0.72 Tabel 4. Persentase daging paha, punggung, dada dan sayap ayam broiler yang di beri FM Parameter N Perlakuan RO R1 R2 R3 Paha atas (g) 20 202.60 ± 31.57 194.80± 33.33 212.60± 21.70 175.00± 28.39 Paha bawah(g) 20 139.20± 17.20 135.80± 13.59 159.80± 24.89 137.80± 13.66 Punggung (g) 20 178.80± 44.43 195.20± 53.48 162.40± 22.95 189.00± 18.34 Dada (g) 20 403.20± 55.42 393.60± 56.18 435.40± 39.70 403.20± 15.02 Sayap (g) 20 73.00± 9.30 67.80± 9.26 69.60± 7.13 68.80± 7.85 parameter N Perlakuan R0 R1 R2 R3 Paha atas Paha bawah punggung Dada Sayap DAFTAR PUSTAKA Anggorodi, R., 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta Abun, Aisyah, dan Saefulhadjar, 2006. Pemanfaatan Limbah Cair Ekstraksi Kitin dari Kulit Udang Produk Proses Kimiawi Dan Biologis Sebagai Imbuhan Pakan dan Implikasinya Terhadap Pertumbuhan Ayam Broiler. Bell, D. D., & W. D. Weaver, Jr. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg Production. 5th edition. Springer Science and business Media Inc. New York. Deaton, J. W. and B. D. Lott., 1985. Age and dicteri effect on broiler abdominal fat deposition. Poult. Sci. 64: 2161-2164. Ensminger, M. E., J. E. Oldfield & W. W. Heinemann. 1992. Feed and Nutrition. 2nd Edition. Ensminger publishing Company, California, USA. Dhuljaman, M., Sugana, N., Natasasmita, A., dan A.R, Lubis.1984. Studi Kualitas Karkas Domba Lokal Priangan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Pengelompokan Bobot Potong Domba dan Kambing Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor. Fuller, M. F., 1992. Probiotics In Man and Abinal. J. Appl. Bacterial 66 : 365 – 378 Forest, J. C., 1975. Collagen. In: The Science of Meat and Meat Product. W. H. Freeman and Company, San Francisco. Gaspersz. V., 1991. Metode Perancangan Percobaan. Arcimo, Bandung. Gordon, S. H. & D. R. Charles. 2002. Niche and Organic Chicken Product: Their Technology and Scientific Principles. Nottingham University Press, UK Haris., 1997. Beternak Ayam Broiler. Pekalongan Gunung Mas. Hartono., 1989. Histologi Veteriner. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor, Bogor. Jayanata C. E. dan Harianto B., 2011. 28 Hari Panen Ayam Broiler. Angro Media Pustaka, Jakarta Selatan. Kanisius, A. A., 1986. Beternak Ayam Pedaging. Kanisius. Yogyakarta. Kanisius. A. A., 1987. Beternak Ayam Pedaging. Kanisius. yogyakarta Leeson, S. and J. D. Summers, 2000. Feeding system for poultry. In: Theodorou, M.K. and J. France (Eds.). Feeding System and Feed Evaluation Models. CAB International, Wallingford Manin, F., Ella Hendalia, Yusrizal, 2009. Penggunaan Berbagai Bakteri Bacillus dan Bakteri Asam Laktat Sebagai Sumber Probiotik dalam Air Minum terhadap Performance Ayam Broiler. Penelitian Hibah Bersaing Tahun 2009. Muhammad Rasyaf., 1985. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta : Penerbit Swadaya. Mulyono, R. Murwani dan F. Wahyono, 2009. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Kampus Baru UNDIP Tembalang, Semarang. Murtidjo, B.A., 1990. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta. North, M. O and D.O Bell., 1990. Commersial Chickens Production Manual. 4 th, AVI Book, Published by Nostrand Reinhold, New York.. North, M. O., 1972. Commercial Chickens Production Manual. The Avi. Publishing Company, Inc., New York. Pratisto. A., 2009. Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS 17. Penerbit PT. Elex media komputindo. Jakarta. Piliang, W. G. dan S. Djojosoebagjo, 1990. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor, Bogor Rose, S., 1997. Principles of Poultry Science. CAB International, Biddles Ltd., Guidford. Rasyaf M., 1987. Beternak Ayam Pedaging. Cetakan Kedua. Penebar swadaya. Jakarta Rasyaf M., 1993. Makanan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta. Rasyaf M., 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Penebar Swadaya. Jakarta.Ayam Pedaging. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Siregar, A. P., M. Sabrani dan P Suroprawiro., 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia Media Group. Jakarta Soeparno, 2000. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadja Mada University Press. Yogyakarta Syamsuhaidi, 1997. Penggunaan duckweed (famili Lemnaceae) sebagai pakan serat sumber protein dalam ransum pedaging. Disertasi. Program Pasca Sarjana.Institut Pertanian Bogor, Bogor. Soeparno, 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan Ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Scott, M. L. Nesheim and Young, P. J., 1982. Nutrition of The Chikens. M. L. Scott and Associates. Ithaca, New York Suradi, K., 2011. Perubahan Sifat Fisik Daging Ayam Broiler Post Mortem Selama Penyimpanan Temperatur Ruang. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung Tillman, A. D. H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusomo dan S. Lebdosoekojo., 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta. Tillman, A. D. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo S. Lebdosoekodjo., 1998. Ilmu makanan ternak dasar. Fapet Gadjah Mada Universiti Press, Yogyakarta Wahyu J., 1988. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadja Mada University Press. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor Wahyu J., 1991. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadja Mada University Press. Yogyakarta Widhiharti, S., 1987. Pengaruh Level Energi dan Level Protein Pakan terhadap Performans, Karkas dan Lemak Abdominal pada Beberapa Tingkat Umur Ayam Broiler. Thesis Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. Wardana, A.S., 2010. Daging Unggas Ikan dan Hewan Perairan Lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar